Mati

Merdeka!
Merdeka!

Itulah yang kau serukan di keheningan.
Saat malam datang.
Akhir hari perjuangan.

Terus!
Terus!

Kau lambaikan tanganmu perlahan.
Besi bergerak memutar kencang.
Aku pergi entah kemana.

Ah!
Ah!

Lolongan sang serigala.
Meletup di tengah kebisingan.
Hingar bingar keringat yang basah.

Mati!
Mati!

Sang jenderal bergerak menghadang.
Hitam pucat ketakutan.
Tiada lagi jalan, kawan.

Merdeka! Terus! Ah! Mati!
Merdeka! Terus! Ah! Mati!

Aku marah padamu

Aku pun selalu mempertanyakan hal yang sama kepadamu. Mengapa kau selalu murung. Mengapa kau selalu termenung.

Hey, lihat aku! Aku selalu bahagia! Marahpun aku tetap bahagia! Aku tidak pernah merasa sendiri pun sepi.

Padahal yang selalu bertemu orang itu kamu. Padahal yang tinggal di luar sana itu kamu. Padahal yang mampu mencintai dan dicintai itu kamu. Kok malah kamu yang kesepian dan murung?

Hey! Lihat aku! Lihat aku baik baik! Aku disini seorang diri! Aku hanya bersinggah di dalam otakmu saja! Harusnya aku yang kesepian.

Lihat aku, bocah! Lihat aku baik baik! Apa perlu aku yang mengendalikan hidupmu?! Apa kamu tidak puas dengan segala apa yang kau punya sekarang?!

Lihat aku, bocah!!!

Ray

Sudahlah kawan
Jangan menangis lagi
Hapus air matamu
Redakan pilu itu

Aku selalu bersamamu
Aku ada disini untukmu
Kau tak perlu merasa kesepian
Ceritakan semuanya padaku
Atau rangkul diriku dan menangislah
Menangislah dalam dekapanku
Menangislah sampai puas

Aku rindu senyummu
Aku rindu tawamu
Aku benci air matamu
Tersenyumlah wahai kawan
Atau biarkan aku tersenyum untukmu

Arah

Apa kubilang

Percuma kau bersenang
Percuma kau ceria

Mereka tak peduli padamu
Mereka tak sayang padamu
Mereka hanya manfaatkanmu

Hanya aku yang setidaknya mau mendengarmu

Tinggal

Aku malas berucap
Letih aku berkata
Lebih baik aku bungkam
Dan membiarkanmu berjalan
Berkali sudah kuingatkan
Kau tak acuhkan
Sampai perih kuperingatkan
Kau hiraukan

Ah, biarlah
Percuma aku berkata padamu
Kau seperti batu
Apatah kau bila kutinggalkan
Apatah kau bila kuhiraukan
Apatah kau bila ku mati

Coba aku hening
Mulai sekarang
Biar kau rasakan

Heningmu

Sudikah kau luangkan waktumu?
Mari kita bicara
Kumpulan kata tanpa tanya
Tanda tanya?

Apatah lagi yang kau pinta
Apatah kau tak kunjung puas
Sudikah kiranya kau mencoba
Apatah kau telah hilang asa

Sepimu tak kunjung berakhir
Senyummu tak kunjung mekar
Apatah kau telah mati

Kemana lagi ku harus mencari?
Kawanku yang intin
Kemana lagi ku mampu berucap?
Sahabatku terkasih
Apatah kau melupakanku

Anak Haram

Bagaimana aku begini?
Bagaimana tidak

Lihat saja kelakuanmu sendiri
Kau tak peduli
Kau tak peduli sama sekali
Kau pura pura tak tahu
Kau jahat
Sepenuh hati aku membencimu
Bagaimana tidak

Bukankah selama ini aku diam?
Bukankah selama ini aku menurut?
Bukankah selama ini aku bungkam?
Kau kira aku patuh?
Aku tidak patuh
Aku benci patuh
Aku benci berpura-pura patuh
Bagaimana tidak

Cintamu tak sebesar bencimu
Sayangmu tak sebesar amarahmu
Belaianmu tak sebesar pukulanmu
Obatmu tak sebesar lukamu
Kau pikir aku tak terluka?
Kau pikir aku tak merana?
Bagaimana tidak

Kalian memang tidak pantas jadi orang tua.